Just a random thought

Postingan ini adalah sebuah anomali dari kebiasaan blog ini yang update tulisan hanya setelah dipikirkan matang-matang, entah berusaha punya makna, informatif,  nyeni, intinya diusahain berfaedah dikit, yaa walaupun berfaedahnya versi pemilik blog saja, alias buat orang mungkin receh banget hahaha.

Anomali ini selingan dari kerjaan. Sepertinya saya cukup mumet sampai serandom ini ingin menulis hal lain sedari urusan kerjaan. Ada beberapa hal menarik

[1] cara orang menghadapi dan mengolah emosi serta kenangan emang berbeda-beda. Ada yang terbuka dan ada yang tertutup. Ada yang tertutup ternyata isinya masih ambyar. Diantaranya ada kawan saya yang terbuka dengan menulis atau update quote galau, kawan saya yang satunya terlihat baik-baik saja tapi ternyata masih sering kepikiran. Saya sendiri lebih suka tertutup dan terlihat baik-baik saja. Mekanisme pertahanan diri dengan prinsip: ngapain terlihat ambyar ke orang-orang yang belum tentu peduli? ya tentu saja dulu ada fase galau yang nampak, tapi semakin tua rasanya semakin realistis.

Sampai seorang kawan berkata, aku pingin kaya kamu, kamu kuat, enggak update apapun, enggak cerita sedih gimana-gimana yang berkelanjutan, pokoknya kelihatan baik-baik aja, move on with life, happy aja bawaanya. Saya enggak pernah mengira kata-kata itu akan keluar dari sohib yang buat saya juga termaksud perempuan kuat. Walaupun terlihat galau, dia tetap mengatur hidupnya dengan baik, kerja jalan, komunitas dan organisasi jalan, jogging pagi juga jalan. Saya mengambil kesimpulan singkat: kuat atau lemah itu perkara yang gak bisa diukur kalau sudah berurusan dengan perasaan. Ada yang mungkin kelihatan ambyar tapi move on with life. It’s all about how we cope with it. So it’s really okay to be vulnerable about your feeling. You can be sad, angry, and so on.

Begitupula dengan kawan saya yang satunya, berusaha realistis tapi ternyata emang masih kepikiran, pfft. Tapi ya gak apa-apa. Saya gak bisa menjadikan standar saya tolak ukur untuk orang lain. Saya pernah berusaha untuk abai tapi di suatu malam yang melenakan pertahanan diri saya, saya nangis tanpa sadar, perasaan pada akhirnya tetaplah peraaan. Yang penting adalah keputusan dan sikap yang kita ambil walau hati sebenarnya ambyar dan porak-poranda, hahaha. Mengikhlaskan dia yang sudah bagi undangan untuk tidak berkontakan lagi misalnya, sabar ya kamu kawanku ehe. Tapi sepertinya, urusan tertutup itu perkara kenyamanan untuk bercerita. Mungkin hanya pada orang-orang tertentu. Saya pun begitu. Mungkin butuh waktu dan hanya orang tertentu yang cukup tahu. Sebab pada akhirnya, dunia berputar, dan perkara hati kita mungkin hanya perkara sepele yang tidak perlu berkelanjutan.

Hampir 30 menit berlalu, I guess that’s it.

 

23 comments

  1. Fasya · 8 Days Ago

    Aku jadi keingetan. Aku punya prinsip temenan sama mantan, tapi beberapa temanku tidak. Dan yauda gakpapa. Aku percaya setiap keputusan orang yang dia ambil adalah hal yang siap dia lakukan dan tanggung jawabkan. Kalau aku milih temenan, artinya aku bisa dan sanggup. Kalau temanku gak milih temenan, artinya mereka menyanggupi hal itu. Jadi yauda, jalankan aja keputusan dan hidup masing2. Ih aku ngomong apasih, semoga kamu ngerti yah hahaha

    Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s