Perlukah Orang Dewasa Update akan Konten Anak-anak?

Pernah satu waktu, seorang teman berceletuk, seiring bertambahnya usia, kartun dan permainan  semacam playstation itu seharusnya sudah tak jadi perihal. Padahal sejatinya, para orang dewasa justru harus tahu perkembangan film-film kartun, anime, dsbnya. Begitupula dengan permainan playstation, dan sejenisnya sebagai pengawas bagi para anak-anak yang belum sepenuhnya bisa menyaring apa yang ditampilkan.

Kemasan ‘kartun’ tidak menjamin bahwa tontonan tersebut sepenuhnya layak untuk anak-anak, bahkan untuk film Disney yang sering jadi favorit anak-anak, orangtua harus tetap mengawasi karena Disney tidak jarang menampilkan adegan ciuman putri dan pangeran di akhir cerita (Not to hate on Disney tho, I love Brave and Moana! You should check them out). Selain itu, untuk anime, tidak jarang pakaian yang ditampilkan terlihat terlalu seksi dan minim, untuk anime sendiri sebenarnya ada tingkatan istilah untuk anime yang usianya dua puluh satu tahun ke atas, jadi tidak semua yang berjudul ‘anime’ itu selalu untuk anak-anak.

Bagi orangtua yang membelikan sang anak playstation dan sejenisnya pun harus paham dan memperhatikan kaset yang dibeli oleh sang anak. Permainan yang cukup terkenal adalah GTA (Grand Theft Auto) yang bertema kehidupan jalanan yang biasanya digemari anak laki-laki. Sekilas terlihat hanya balapan dijalanan, tapi ada adegan ketika si pemain mendatangi sang kekasih di rumah, jika versi Indonesia hanya terlihat bagian depan rumah sang kekasih dengan audio yang ‘absurd’ bagi anak-anak tapi orang dewasa akan paham. Versi asli GTA ataupun versi GTA dengan karakter Spiderman, dll merupakan versi tanpa sensor, versi ini memperlihatkan adegan kurang pantas yang sebaiknya tidak ditonton oleh anak kecil. Adegan ini disebut ‘misi kekasih’ yang bisa diulang kapan saja sang pemain menginginkannya, sehingga ini cukup berbahaya, suatu kegiatan yang ditonton ulang bisa menjadi candu dan mengundang untuk keinginan mencoba.  Banyak permainan lain yang kesannya seperti petualangan tapi ada terselip adegan-adegan dewasa seperti God of War, dsbnya. Bahkan ada permainan-permainan dewasa seperti Leisure Suit Harry,  Playboy: The Mansion, dsbnya.

Penting bagi orangtua, para orang dewasa untuk mengawasi tontonan dan permainan anak. Untuk terlebih dahulu menonton film tersebut, dan memastikan untuk memeriksa secara teratur kaset-kaset permainan yang dibeli anak, keponakan, atau adik kecil. Bahkan lebih baik jika ditemani selama menonton dan bermain game.

Kita sebagai orang dewasa harus lebih update tentang segala perkembangan di dunia anak-anak karena kita punya peranan untuk memilah mana yang sebaiknya diberikan atau tidak sesuai dengan umur dan kemampuan si anak menafsirkan konten yang ada, walau dengan label anak-anak sekalipun.

Disclaimer: Tulisan ini pernah di post pada tahun 2016 dengan judul yang berbeda, dan sudah direvisi kembali.

Diantara Perempuan

Padahal setiap perempuan sama-sama mempertaruhkan hidupnya ketika melahirkan, padahal setiap perempuan sama-sama merasakan nyeri yang luar biasa ketika datang bulan, tapi nyatanya diantara para perempuan masih ada yang merasa jauh ‘lebih perempuan.; 


Kadang, saya suka gemas membaca tulisan-tulisan yang membandingkan perempuan terhadap satu sama lain. Padahal, saya kira empati sesama perempuan harusnya menghilangkan itu.

ketika seorang perempuan memilih melanjutkan sekolah dan satunya memilih melanjutkan ke jenjang pernikahan.  Ketika seorang perempuan memilih diam di rumah dan satunya memilih bekerja di luar rumah. Ketika seorang perempuan memutuskan menikah pada usia muda dan satunya memilih untuk menunggu lebih lama. Ketika seorang perempuan melahirkan secara normal dan satunya melahirkan melalui caesar. Ketika seseorang perempuan menolak dipoligami karena merasa tidak mampu dan satunya menerima dipoligami. Ketika seorang perempuan memilih menutup aurat dan satunya belum mengikuti. Ketika seorang perempuan berpenampilan tomboy atau kurang feminim dari yang dirasa seharusnya. Ketika seorang perempuan memilih jalannya sendiri yang barangkali berbeda dari kebanyakan perempuan.

Padahal, kehidupan seseorang memiliki kondisi dan ceritanya masing-masing, yang mungkin harusnya jadi prinsip hidupmu belum tentu dapat bertemu dengan realita hidup seseorang. Ketika kamu merasa pilihan hidupmu apik, silahkan berbahagia tanpa perlu menjatuhkan pilihan hidup seseorang yang berbeda.


*Iya, aku muak melihat kalian yang membandingkan ibu rumah tangga tidak jauh lebih baik secara wawasan tentang kenyataan hidup di luar sana atau sebaliknya ibu bekerja kurang mulia karena tidak di rumah, begitu pula yang memilih menikah muda seolah mereka hanya ingin bergantung pada lelaki, pun perempuan yang memilih melanjutkan pendidikan ketimbang segera menikah atau belum menikah adalah perempuan yang akan menginjak atau merasa lebih dari laki-laki.  Terlebih tentang perempuan yang melahirkan secara normal jauh lebih hebat dari yang caesar, gini loh, keduanya sama-sama berada diantara garis hidup dan mati.

Sudah yhaa aku muak hehe. 🙂 

Tentang Berkomentar

Salah satu hal yang ingin saya capai di tahun 2019 ini adalah bijak-bijak dalam mengomentari sesuatu. Kelihatannya sih sepele, tapi nyatanya kadang mulut melaju duluan dari pikiran, tiba-tiba udah nyerocos aja.

Dulu, saya kira saya harus tau segala hal, harus punya respon untuk setiap pertanyaan dan pembahasan, tapi makin kesini, saya sadar bahwa saya ini ibarat butiran debu, dan dunia ini terlalu luas untuk saya ketahui dan kuasai segala hal di dalamnya.

Kalau tidak tahu, belum paham, jauh lebih baik diam dan jujur belum punya ilmu atau pengetahuannya. Gak perlu juga berdebat ketika esensinya bukan untuk menemukan kebenaran.

Saya juga berdo’a semoga tidak sembarang mengomentari sesuatu yang saya belum paham seluk beluknya sepenuhnya, misalnya begini, ada kebijakan pemerintah yang secara sekilas saya rasa tidak bagus, tapi sebelum berkomentar, apakah saya sudah berusaha mencari tahu tentang seluk beluk kebijakan itu? jangan sampai konyol, ibarat cuman berkomentar melihat dari apa yang nampak. Atau misalnya, ketika teman bertanya tentang konsep poligami, saya akan menolak konsep itu bagi saya karena saya tahu tidak akan mampu, tapi kemudian dengan dangkalnya mengomentari atau mengkritisi konsep tersebut tanpa mengkaji lebih dahulu itu tidaklah bijak. Sederhananya gini:  Lah kok belum dipelajari terus langsung berkomentar padahal bisa jadi pertanyaan-pertanyaanmu terjawab ketika proses mengkaji itu. 

Sama halnya dengan berkomentar di sosial media atau celetukan-celetukan ringan yang sebenarnya gak perlu. Wah kok betah ngejomblo sih? ih pasangan gendut jelek kayak gitu kok mau, wah kok belum punya momongan ini?, wah kok gak nyoba kerja di swasta aja gajinya besar, wah kok gak nyoba pns aja, dan segala celetukan sejenisnya. Komentar atau celetukan yang ringan di bibir tapi berat di hati pendengarnya dan tanggung jawabnya nanti, ya kalau belum bisa nyenengin orang, hindari memberatkan hatinya.

Seseorang yang saya kenal, tampak keren dan dewasa dari bagaimana ia mampu menahan diri dalam mengkomentari sesuatu. Ketika ada permasalahan dengan seseorang, beliau hanya akan mengomentari kesalahannya dengan hati-hati, bukan orangnya. Beliau juga akan jujur ketika berdiskusi bahwa ada hal-hal yang beliau tidak kuasai dan merasa tidak pantas mengomentari lebih jauh. Beliau tidak sungkan jujur kepada yang lebih muda bahwa ada hal-hal yang tidak beliau ketahui sepenuhnya, bahwa kita gak harus selalu tampak hebat dengan mengetahui banyak hal.  Sikap beliau yang seperti ini sudah cukup membuat saya kagum, dan barangkali inilah yang dimaksudkan oleh Imam Ali bahwa bijak dalam mengomentari sesuatu sesungguhnya jauh lebih baik bagimu.


 

*Catatan kontemplasi,

25 Januari 2019,

Semoga.

%d blogger menyukai ini: