Percakapan Tentang Hidup (2)

“Bang, coba kasih aku satu alasan untuk hidup..”

“Kenapa untuk hidup saja seseorang butuh alasan?  Kita sudah dilahirkan.”

“Tapi, bagaimana jika manusia memilih untuk mengakhiri hidupnya?..”

“Ketika manusia tahu dirinya dilahirkan, saat itu seharusnya mereka tahu hidup bukanlah miliknya. Ia juga tidak berhak mengakhiri apa yang bukan miliknya.”

“Tapi bagaimana jika alasannya karena ia rasa keberadaanya ternyata gak memberikan arti?..”

“Itulah egoisme peradaban yang ditanam orang-orang yang gandrung sekali dengan kesucian: menjadi manusia yang bisa memberi arti, memberi makna, dll, seolah-olah itu harus, seolah-olah itu kemampuan manusia. Banyak yang terbebani dengan itu. Padahal hanya Allah yang maha memberi makna, maha memberi taufik dan ilham.”

“Dek, kematian kita adalah apa yang terjadi pada orang lain. Sekali kita menarik pelatuk dan meledakkan kepala kita, kematian tidak terjadi pada kita, melainkan pada orang-orang di sekitar kita. Mereka yang menyebut kita mati, menamai kita mayit, mengurus mayat kita, dan bersedih, bahkan gila. Kematian bukan terjadi pada kita. Kematian terjadi pada orang lain..”

“Bang, apakah orang yang bunuh diri itu kurang iman?..”

“Kurang diperhatiin..”

“Diperhatiin oleh?..”

“Masyarakatnya. Tren bunuh diri besar di kultur urban-individualistik.”

“Tapi, gimana dengan kondisi dimana dia terpenuhi, bahagia, keluarga baik-baik, perhatian cukup, dan memilih bunuh diri, bisa dibilang kurang iman?..”

“Pasti ada beberapa hal yang bolong, kan. Itu yang tidak terpenuhi.”

“Ndak ada jaminan keluarga yang baik dan perhatian yang cukup membuat seseorang bahagia. Bahagia ya bahagia. Orang punya kebutuhannya masing-masing.”

“Atau, bisa gak sih dalam kondisi semuanya terpenuhi, tapi dalam satu momentum, pikiran itu bisa tiba-tiba saja kosong dan nekat? jadi dia bisa lupa dengan semua sekilas?

“Bisa aja sih.”

“Nah, kalau kaya gitu? bisa disebut kasus dimana waswas setan itu nyata dan ibarat api yang memanasi pikiran-pikiran pendek begitu?”

“Orang bunuh diri itu bukan ingin mati, Dek. Orang bunuh diri karena ingin semua bebannya berakhir. Dua hal itu berbeda. Tidak ada yang ingin mati, bahkan pelaku bunuh diri.”

“Tapi bolehkan itu disebut jatuhnya kurang iman?”

“Apa sih iman itu? Kalau ada orang sakit terus orang itu ndak ke dokter, atau dia ndak cukup uang buat ke dokter tapi ndak ada juga orang baik yang mau biayain dia ke dokter, kita bisa bilang seseorang itu kurang iman, nggak? Kasus yang sama pada orang yang depresi. Depresi itu penyakit mental. Ya kali orang sakit dibilang kurang iman. Mereka orang yang butuh bantuan. Bukan kurang iman.”

“Lalu bang, apakah orang sekitarnya salah ketika dia bahkan tidak membagikan bebannya? gimana dengan konsep kita harus mampu bertahan sendirian?”

“Ya, mereka salah. Salah secara moril.”

“Tapi, ketika pelaku menutupinya bang, lalu keluarga juga hanya melihat sisi bahagia saja, dan memang bunuh diri itu ‘khilaf atau gelap mata’ saja, bukan dari bom waktu depresi, apakah orang-orang sekitarnya masih salah?

“Bagi abang, ya. Tetap salah orang di sekitarnya. Kenapa orang-orang menolak disalahkan?”

“Bukan, tapi perasaan pelaku yang merasa kalau dia yang lemah mentalnya.”

“Artinya, kita bicara di level prinsipil. Bagi mereka yang mengerti, tidak ada satu keburukan pun yang terjadi tanpa ada wadah. Wadah itu memberinya peluang. Dalam rangka evaluasi, hal ini penting diakui. Karena itulah secara prinsipil tetap harus dikatakan orang-orang di sekitarnya salah.”

“Sebutlah bang, ketika seorang anak itu merasa alasan hidupnya adalah orangtua, ketika dia merasa mengecewakan orangtuanya, dia merasa tidak punya alasan untuk hidup, itu bukan pikiran yang lemah?”

“Tentu itu pikiran yang lemah. Tapi pikiran yang lemah itu, karena didikan siapa? Abang penganut filsafat materialisme. Tidak ada satu pun kondisi mental manusia kecuali ia adalah pengaruh dari dunia materil di luar diri manusia. Mental dipengaruhi materi. Hukumnya begitu. Mereka yang bunuh diri karena lemah pikiran tidak bisa disalahkan. Pihak yang tidak membentuk kekuatan pikiran orang itu juga patut disalahkan”

“Apa alasan lain untuk tidak bunuh diri?

“Ada banyak. Ada alasan praktis. Kita mencoba mencegah dengan menanamkan cara berpikir baru, sesuai kebutuhan korban. Yang kemarin abang sebut itu alasan-alasan prinsipil.”

“Ambil kasus alm. Chester Bennington. Dia berkali-kali ndak jadi bunuh diri karena Linkin Park membuatnya banyak proyek. Album baru lah, duet lah, rehearsal lah, manggung lah, dll. Linkin Park selalu bikin kondisi membutuhkan Chester. Linkin Park juga membebaskan Chester bikin lirik, sebagai cara melampiaskan perasaan. Tapi Chester tidak kuat lagi karena tertriger sahabatnya yang bunuh diri. Dia ikut.”

“Jadi, apa yang bisa menguatkan manusia bang? Agar ketika sendiri, pikiran pendek itu tidak datang?

“Banyak hal bisa jadi motivasi, Dek. Banyak hal bisa menjadi pemicu seseorang supaya tabah ketika sedang sendiri.”

“Misalnya?..”

“Jawaban yang kamu inginkan, mungkin, Tuhan. Dia bisa kembali pada Tuhan. Mungkin itu yang disebut iman. Tapi kasus Chester, kesendirian bisa dia lalui dengan berpikir bahwa Linkin Park membutuhkannya. Teman-temannya masih menyayanginya.Jadi, bisa apa saja.”

“Buat seorang Muslim bang?”

“Muslim itu identitas yang terlalu umum, Dek. Manusia yang depresi punya situasi yang terlalu spesifik. Tiap situasi spesifik itu butuh motivasi beda-beda.”

“Iya, maksudnya, dalam konteks agama abang. Kan di atas abang sebutkan Allah, taufik, ilham, jadi aku ingin bahas lebih luas di situnya..”

“Kalau itu sih banyak banget.”

“Memang manusia diciptakan untuk beribadah, alasan hidupnya, tapi aku ingin tau barangkali ada yang abang mau jabarkan selain dari itu..”

“Cuma itu, cuma untuk beribadah dan berkhalifah. Tapi seandainya semua kata ibadah (na’budu, ta’budun, ya’budun, ‘abidun, dll) diganti artinya dengan ‘Menghamba pada nilai-nilai ilahiah’, maka artinya bisa menjadi sangat luas. Ketundukan, kepatuhan, kemenghambaan, pada nilai-nilai ilahiah. Dengan begini, ruang lingkup pemahaman kita tentang agama, tentang religiusitas, jadi berkembang. Opsi cara dan pilihan untuk ber-Tuhan dan ber-Agama juga makin luas.”

“Okay, kita akhiri dulu, aku laper, Bang..”

“Hmmmmmm..”

Percakapan pada suatu hari dengan Ical. 


“Tadi gue ngobrol soal alasan untuk hidup sama bang Ical, loh. Nih lihat..”

“Ris, yang perlu ditanyain tuh alasan kenapa harus mengakhiri hidup kalau seseorang mau mengakhirinya bukan sih?”

“Ya kalau konsep agama kan surat Adzariyat bukan sih, Ris? Misi penciptaan manusia ya buat beribadah, dari ibadah itu kemudian banyak turunannya. Jadi sesaat setelah kita lahir, ya beban (taklif) itu udah ada, meski baru diaktifasi ketika kita jadi mukallaf (baligh-berakal)..”

“Jadi kalau ada pertanyaan ‘apa alasan seseorang tetap bertahan hidup?’ untuk melegitimasi tindakan mengakhiri hidup, pertanyaannya agak kurang pas. Seharusnya apa alasan seseorang mau mengakhiri hidup? karena kan itu tindakan yang bakal dia ambil, Ris.”

“Terus, jika alasan seseorang itu mengakhiri hidup karena merasa hidupnya tak berarti?

“Ya terus apakah matinya bakal jadi berarti?..”

“Kira-kira coba pikirkan jawaban untuk seseorang yang lagi genting, ibaratnya, dia sedang hendak bunuh diri, jadi gimana jawaban yang sekiranya menurut lo paling bisa meyakinkan dia?”

“Gw tidak ada pengalaman yang kek begini, Ris. Agak bingung juga~”

“Yaudah, pertanyaannya diubah. Kenapa seseorang tidak boleh mengakhiri hidupnya?”

“Lah itu bang Ical cakep jawabannya..”

“Lah kan gue nanya elo nih..”

“Bunuh diri itu satu di antara dosa besar gengs. Tapi barangkali orang putus asa agak bakal susah dibilangin gitu. Tapi kalau pertanyaannya alasan gak boleh bunuh diri, ya itu bisa jadi alasan juga..”

“maka, kira-kira apa yang bisa melembutkan hati yang sedang putus asa?”

“Ih, kalau dulu gw mungkin bakal langsung justifikasi orang yang bunuh diri tuh kurang iman. Tapi masalahnya gak bisa disimplifikasi kayak gitu kan. Problemnya gak tunggal. Ah lu lebih paham ini lah, Ris..”

“Kenapa kurang iman? Terus lu yang sekarang mikirnya apa?”

“Gw yang sekarang gak berani mikirin motif orang bunuh diri. Dia punya masalah, dan kita yang di sekitarnya kurang begitu peka untuk ikut meringankan masalahnya. Ya dulu gw mikirnya bunuh diri itu dosa besar, ancamannya neraka. Dia berani bunuh diri apa gak takut masuk neraka. Ya kurang lebih gitu kalau dulu..”

“Tapi, kadang yang bersangkutan gak mau cerita atau kadang, ketika cerita, ternyata ‘cuman mentalnya aja yang lemah’ semisalnya, menurut lo gimana?”

“Gak tau, gue gak tau..”

“Yaudah deh, kita akhiri dulu untuk ini, terima kasih yak..”

Percakapan dengan El pada suatu hari. 


Percakapan Tentang Hidup Bagian 1

Sekilas dari bagian pertama:
Alasan kita hidup tidak mesti untuk diri sendiri. Dalam pengertian tertentu, memang alasan hidup terbaik memang bukan untuk kita sendiri, melainkan keutuhan yang lebih besar, keseimbangan dan kasih sayang. Karena itulah kita menemukan para Nabi yang bersedia menderita demi memperbaiki. Karena itulah kita menemukan ajaran tentang memberi dan berkorban. Tentang orangtua yang banting tulang untuk anak, tentang anak yang berbakti pada orangtua. Hidup dengan mengambil secukupnya, yang baik, memberi selebihnya, untuk keseimbangan, dan kasih sayang.

Suara Perempuan

Saya pernah iseng bertanya ke El, suara perempuan itu aurat? seingat saya, El menjawab bukan, tapi mesti ada batasan dan adab berbicara dengan lawan jenis. Nanti kalau statement saya ini kurang tepat, biar dia koreksi sendiri di bagian komentar, mangga abang dipersilahkan, haha.

Emangnya batasan yang seperti apa? mendayu-dayu kalau yang saya pahami. Ada kekhawatiran kalau suara perempuan yang mendayu itu memancing sisi srigala  lain seorang lelaki yang sedang tidak beres suasana hatinya (?) hahaha. Intinya, perempuan mesti pandai-pandai mengatur nada bicara. Ih, perempuan terus yang diatur-atur. Ehey, kalem lur,  ya karena suara perempuan memang se-spesial itu, lagian ini tuh anjuran, hadirnya juga dari kekhawatiran. Jadi, bukan Islam yang serba ngatur gini gitu dan memenjarakan ruang bebas perempuan.

Terus, masalahnya apa dong? kan bukan aurat dan asal tidak mendayu-dayu nih. Masalahnya sih gak ada, hanya kebetulan saja tadi siang saya membaca beberapa artikel tentang bagaimana suara perempuan bisa merangsang laki-laki, khususnya suara perempuan yang sedang dalam masa subur siklus menstruasi. Inti yang saya tangkap adalah suara perempuan dalam masa subur ini mengirim ‘energi listrik’ yang berbeda kepada laki-laki. Suara perempuan akan terdengar lebih menarik dan mempengaruhi detak jantung kaum adam.

Saya pun iseng bertanya ke beberapa kawan lelaki yang cukup akrab. Kalau tidak akrab ya malu adek tuh, nanti dikira modus. Lebih tepatnya mereka seperti abang sih, tapi tolong hindari ‘abang-adekan’ versi nyaman, bungkus luar sama tapi isinya beda, biasanya berujung tidak baik untuk hati, hahaha.

Empat dari lima narasumber sepakat kalau suara perempuan bisa memancing.  Dua diantaranya mengatakan khususnya jika obrolannya agak melenceng dengan suara yang menggoda. Tapi uniknya salah satunya menjawab akan illfeel kalau suara perempuannya menggoda. Satunya juga pernah gak nyaman mendengar suara perempuan yang bukan mahrom terdengar agak manja. Tapi semuanya sepakat kalau mereka merasa biasa saja dengan suara perempuan kecuali dalam keadaan dan konteks tertentu seperti di atas tadi, ya suara perempuan bisa berpotensi untuk memancing sisi lain.

Dari sini, saya menarik benang merah antara teori di atas dengan hukum suara perempuan dalam Islam. Menjadi bukan aurat karena memang kaum adam pun rata-rata merasa biasa saja kalau dari hasil sekilas tadi. Mendengar perempuan bicara dikit tidak auto ingin merasa jantan atau gimana, ehe. Tapi sebagaimana ada konteks tertentu yang dibahas tadi, suara perempuan memang sebaiknya dikondisikan. Lagipula, kalau menilik QS. Al Ahzab, 32:

“Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara dengan mendayu-dayu sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya (Al Ahzab: 32)..”

Konteks yang saya pahami adalah penekanan pada orang yang ada penyakit hatinya, laki-laki yang pikirannya lagi nyeleneh, bukan lelaki secara keseluruhan. Maka jadilah itu sebuah himbauan, anjuran, bukan hukum mutlak bahwa suara perempuan adalah aurat sehingga membatasi ruang gerak perempuan. Tapi kenyataan kalau suara perempuan berpotensi untuk melenakan dan memancing juga iya. Disitulah saya merasa betapa Islam mengkondisikan setiap perkara dengan benar dan untuk tujuan yang baik, bukan sekadar aturan-aturan baku atau urusan hukum tekstual kalau kata Ical, kalau pernyataan ini salah, Ical dimohon bersabar dan kolom komentar dipersilahkan, haha.

Kemewahan (?)

Selama ini, saya hanya melihat pesawat sebagai alat transportasi. Pemandangan yang terlihat hanya sesuatu yang kebetulan lewat. Pesawat hanya alat transportasi untuk memangkas waktu. Perjalanan sehari yang bisa menjadi sejam. Pesawat tidak lebih dari itu. Tapi, penerbangan Jakarta – Makassar beberapa waktu lalu membuat saya merenung. 

Lewat jendela pesawat, saya melihat hamparan awan yang menggantung.  Langit yang biru cerah, awan putih bagai permen kapas. Laut biru gelap dengan buih-buih putih samar-samar terlihat dari atas jendela. Bukit-bukit hijau dengan pepohonan rindang. Terbesitlah di kepala saya, bahwa ini kemewahan yang selama ini tidak saya sadari. Melihat bagaimana detail isi alam semesta diciptakan oleh Tuhan.

Duduk di jendela pesawat ini memang sebuah kemewahan. Tapi justru di situ saya sadar bahwa manusia justru tidak berdaya dengan semua kemewahan ini. Dalam hitungan detik, kemewahan ini bisa hilang. Bayangan mengerikan tentang apa yang bisa terjadi dengan pesawat ini membuat saya bergidik. Kadang, kita manusia merasa telah menggenggam apa-apa yang kita kira menjadi milik kita, mengenggam kemewahan yang kita kira telah ada di tangan, tapi nyatanya semua bisa hilang dalam sekejap. Maka, diantara semua pilihan kemewahan dalam hidup di dunia, manusia sesungguhnya tetap seonggok daging yang perlu meminta pada Tuhannya.

Mempertanyakan Kebenaran

Aku pernah menafikan Islam. Mempertanyakan banyak hal tentang perkara di dalamnya, dan seringkali mendapati banyak hal yang tidak masuk akal. Kenapa aku harus mempercayai sesuatu yang bahkan tidak masuk akal? sesuatu yang tidak dapat diterima oleh nalar? kenapa harus beriman ketika otakku bahkan tidak bisa memproses konsep yang rasanya tidak rasional? Kenapa ketika aku bertanya, semua hanya menyuruh untuk percaya? dimana penjelasan yang bisa diterima oleh pikiran?

Penolakan yang dibarengi ego ini kemudian membuatku terjebak dengan penilaian dangkalku. Aku gak pernah benar-benar nyari tahu. Hanya merasa aneh tanpa memastikan apakah informasi yang aku terima sudah benar. Salah satu hikmah yang aku dapatkan dengan kembali bersekolah adalah menjaga prinsip bahwa ketika aku mempertanyakan sesuatu, aku juga harus memastikan  dan belajar seluk beluk perkara yang sedang aku pertanyakan. Tidak berhenti pada penilaian selintas. Aku pikir tidak adil kalau aku sibuk menilai tanpa benar-benar belajar seluk-beluknya terlebih dahulu.

Akhirnya, satu persatu kebenaran itu mulai menjawab semua keraguan dan pertanyaan-pertanyaanku. Barangkali, salah satu kepuasan dalam hidup adalah mendapatkan jawaban mutlak yang membuatmu tidak bisa berkelit. Ada kepuasan yang aku dapatkan ketika nalarku dibungkam kebenaran yang ternyata selama ini telah aku salah pahami. Islam adalah kebenaran, dan itu mutlak. Setiap perkaranya jelas dan dapat diterima oleh nalar maupun perasaan. Sebagai orang yang suka mempertanyakan segala sesuatunya, aku tidak dapat berkutik.

Tapi kemudian aku melihat semacam realita bahwa seringkali Islam disalahpahami, sebab aku sendiri pelakunya sebelumnya. Kebenaran yang tidak sampai dengan utuh, lalu justru dipelintir menjadi sesuatu yang seolah nampak buruk, kaku, seolah membatasi. Padahal, dalam Islam, aku temukan kebaikan yang paling baik, keindahan yang paling indah pada setiap perkara adab dan akhlak. Tapi sayangnya, justru itu yang barangkali hilang dari dari kita. Sunnah Rasul yang terlalaikan, ibarat perkara kecil yang tak perlu dirisaukan, padahal setiap perkaranya menjadi bukti betapa Islam itu baik. Kesalahpahaman lain seolah ada pembagian antara muslim taat dan tidak, ataupun yang fanatik. Hingga tanpa sadar melabeli saudara sendiri yang hanya berusaha taat sesuai kemampuannya, dasar aku yang juga dulu jadi pelakunya.

Dari sini juga aku belajar bahwa tidak ada yang salah dengan mempertanyakan sesuatu. Sebagaimana dosenku pernah bilang, nalar itu hakikat manusia. Ketika nalar terjawab, disitulah keyakinan hadir. Ketika manusia paham akan sebuah kebenaran, kebenaran itu akan menjadi sebuah pegangan untuk percaya. Kamu harus paham sebelum meyakini, sebab ketika semua terasa tidak masuk akal, kamu akan kehilangan tumpuan untuk terus yakin. Barangkali mempertanyakan adalah langkah awal dari menemukan kebenaran, dan memang Islam menjawab dengan jelas setiap keraguan.

 

Latifa.

Kerja alam semesta memang unik dan penuh kejutan. Ada pertemuan tak terkira yang ternyata bisa begitu manis. Pertemuan kejutan dengan seorang teman blogeryang ternyata begitu dekat. Seorang bloger yang pernah membuat saya penasaran karena sebuah tulisannyayang cukup meninggalkan impresi di memori.

Saya bahkan menjadi penasaran ketika tahu kami sepertinya berada di satu daerah. Bermula dari El yang sok akrab banget kepada yang bersangkutan, hahaha. El berkomentar di salah satu postingannya, Teh, ikut kajian ust. Adi yang ini juga? Ih yg punya blog Rissaid juga hari tadi ikut kajian ini. Kalian saling kenal gk sih? Kepolosan El membuat saya hanya bisa tepuk jidat dan nyengir, yakali satu daerah auto saling kenal, hahaha. 

Mengetahui bahwa kami satu daerah membuat saya berniat untuk mengajaknya kopdaran suatu saat nanti. Saya bahkan pernah berpikir alangkah lucu dan serunya kalau ternyata kami satu kampus apalagi satu gedung. Tapi ternyata takdir diantara kami saling tarik-menarik. Nyatanya kami begitu dekat. Sore itu, kami bertemu. Sebuah pertemuan yang membuat saya takjub sendiri.

“Loh, Latifa yang latar profilnya warna kuning itu?” celetuk saya kebingungan.

Yang ditanyai tersenyum. Yang menanyai masih belum percaya sampai akhirnya Latifa mulai bercerita. Ternyata, kami punya seorang teman yang menjadi penghubung. Hari itu, Latifa menemui Iin yang berencana mengunjungi saya untuk mengambil galon titipan Iin. Kami pun bertemu, setelah sebelumnya saya mengira Latifa adalah pembeli galon yang dijual Iin, hahaha.

Kami menghabiskan sore itu untuk mengobrol. Kesan pertama yang tertinggal dari seorang Latifa adalah dia cukup tenang dan pemalu. Tapi setelah beberapakali bertemu kemudian, Latifa seseorang yang periang dan ramah. Latifa ternyata tinggi, jadi saya harus jinjit tiapkali kami berfoto, eheu.

Kopdar yang penuh kejutan itu spesial buat saya, sebab saya sudah pernah berniat untuk mengajaknya bertemu, sempat menduga bagaimana jika kami berada begitu dekat terhadap satu sama lain. Spesial sebab mengetahui bahwa rasa penasaran ini bukan sepihak. Ibarat jodoh yang dipertemukan satu sama lain setelah sama-sama saling memendam rasa keinginan tahuan pada satu sama lain. Uniknya, kami sama-sama menggunakan atasan dan bawahan yang berwarna biru hari itu. El dan Iin pun berceletuk, kalian janjian apa gimana? hahaha. Mungkin begitulah ketertarikan saling tarik-menarik, berujung pada sebuah pertemuan yang manis.

Untuk kamu yang sudah selangkah lebih dulu mau menghampiriku, membayar rasa ingin tahuku tentang kamu, semoga terus menulis, dan terima kasih, Latifa. 🙂

Processed with VSCO with hb2 preset

Silahkan yang iseng menebak: Tangan Latifa yang mana?

Dear Perempuan (2)

“Kenapa gak lapor aja? Gue gak bisa ngelaporin karena gua masih punya hati, Dia mahasiwa, dia lagi rintis bisnis, dan yang paling penting dia punya orangtua yang sayang sama dia. Gue gak mau masa depannya hancur karena gue laporin. Gue gak marah balik ke dia, sumpah. Gue cuman bisa ikhlas, sabar. Pun kalau dibalas, udah biar Allah aja yang bales. Lets karma do their job. Tapi biar ini jadi pendewasaan buat gue lebih hati-hati lagi pilih pasangan dan jadi pendewasaan juga buat dia supaya lebih treat perempuan dengan baik. “. Ucap seorang perempuan untuk mantan kekasih yang sudah menyakitinya. Mencekiknya, dan memukul mata kanannya hingga terjadi pendarahan dalam di bagian mata kanannya.


Aku ngerasa sedih ketika membaca postingan itu. Menjadi baik itu bukan menerima apa adanya sesuatu yang salah. You should stand for yourself. Tidak menerima perlakuan yang kurang dari sepantasnya. Kadang kita terlalu mikirin orang lain sampai lupa mikirin diri sendiri. Lupa kalau ada orang-orang terdekat kita yang sayang dan bakal sedih kalau kita diperlakukan kurang etis. So for once, please think about yourself first. Think about those people who love you. Karena orang-orang yang sayang sama kita tadi juga bakal terluka, kecewa, sedih.

Aku juga sedih karena ternyata masih banyak yang salah paham tentang cinta yang seperti itu. Apalagi dalam hubungan yang belum terikrarkan ikatannya. Kamu tuh loh ndug, perempuan spesial yang diciptakan Tuhan baik-baik, kenapa merasa cinta jadi pembenaran untuk menyakiti fisik yang istimewa diciptakan Tuhan? Aku gak bisa nerima kekerasa fisik sebagai cinta. Apalagi dalam sebuah hubungan yang lelakimu itu lho bahkan belum membuktikan keseriusannya dengan meminta izin ayahmu untuk meminang kamu. Dimana letak cintanya? perjuangan belum disempurnakan, tapi main tangan sudah didahulukan. 

Bicara cinta, semua orang bisa bilang cinta. Tapi aku rasa cinta itu kata kerja, cinta adalah usaha, sebuah usaha menjaga. Setiap yang ada di dirimu pantut dijaga. Cinta juga semestinya menghargai. Bahwa butuh sikap saling menjaga kepada satu sama lain. Komitmen itu usaha dua orang. Kalau satu memutuskan untuk berhenti berusaha, kamu pun berhak untuk pergi.

Tapi kamu merasa terlalu cinta untuk pergi? Apa kamu gak sayang sama diri sendiri? Apa gak mau ngerasain bahagianya ketika ada seseorang yang juga menghargai cinta yang kamu berikan? Iya, aku tahu kamu takut kalau tidak ada yang bisa menerima kamu apa adanya sesudah ini. Tapi percaya deh sama aku, ketakutan-ketakutan itu akan hilang. Perasaan itu akan terbayar nantinya ketika kamu sadar bahwa kamu nyatanya bisa hidup dengan baik-baik saja tanpa dia. Bahkan lebih baik karena tidak ada lagi yang menyakiti fisik dan perasaanmu. Yang perlu kamu cintai itu harus tubuh, hati, dan pikiranmu dulu. Cari kebahagiaan yang gak nyakitin. 

Sungguh mencintai butuh kewarasan. Ketika definisi cinta itu blur, beberapa dari kita jadi sering salah kaprah. Cinta gak seharusnya buta, cinta harusnya ngarahin kamu buat jadi versi yang lebih baik. Aku berani jamin, ketika kamu belajar mencintai diri sendiri, kamu lebih banyak bahagianya ketimbang kejebak dengan cinta yang banyakan bikin kamunya capek perasaan.

Ingat, ibu kamu gak ngandung kamu sembilan bulan hanya untuk merendahkan diri pada cinta yang sebenarnya semu” – Ika Natasha.

Aku hanya ingin mengingatkan teman-teman perempuan yang suka mampir ke blog ini. Aku gak mungkin kenal kalian satu-satu, tapi aku gak mau kalian harus ngerasain hal diatas. Apalagi hal-hal seperti di postingan lama milikku ini (silahkan di klik untuk membaca tapi sebelum membaca mohon dimaklumi kalau bahasanya agak frontal). Aku juga gak mungkin ngelarang-larang kalian untuk berkomitmen, tapi apapun bentuk komitmen yang kalian usahakan sekarang, kamu itu berharga untuk dijaga. Tolong, tolong banget nih, kamu itu layak untuk diperjuangkan dengan menghadap orang tua sampai lelaki kamu keringat dingin buat meminang. ~