Beban di Pundak Lelakimu

“Kenapa manyun gitu sih?”

“Dia belum balas pesan aku lebih dari beberapa jam yang lalu..”

“Kamu tahu kan dia juga punya kesibukkan?”

“Tapi katanya itu berarti aku gak spesial lagi”

“Kamu jangan mau diracuni pikiran-pikiran norak begitu”

“Kan aku kangen kak, si Minten sama Jumono aja chattingan tiap saat, tiap malam mereka teleponan, yo minimal kalau teleponan cuman seminggu sekali mbok ya chattingan gitu loh..”

“Kamu sebenarnya sayang apa cuman kesepian? dua hal itu bisa beda tipis, bedanya ada dikeinginan kamu untuk mengerti, kalau sayang kamu buang pikiran norak tadi”

“Kalau dia sayang juga sesibuk apapun dia bakal ngabarin toh”

“Berhenti bikin penyakit sendiri, menciptakan ekspetasi dan standar sesepele itu dalam hubungan, ketika ada usaha lainnya yang lebih besar darinya”

“Justru karena sepele, masak gitu doang gak bisa?”

“Gini ndug, wong lanang iku sudah kewajiban dan instingnya untuk tampil sebagai laki-laki sing genah, yang punya kemampuan untuk menjemput perempuannya secara bangga, biar tampak sing apik di matamu dan keluargamu. Contoh kecilnya itu ya sesederhana bayarin makan, gak wajib emang buat laki-laki, tapi sing namanya lanang pasti pingin ndug. Jangan dikira sekedar keluar jalan itu gak dipikirin sama arek lanang, de’e pasti mikirno dari urusan jemput di rumah sampai urusan ngebayarin makan, jadi wis dipikirno, dan tiap minggu sibuk kerja yang kamu keluhkan itu ya bagian dari rencana de’e untuk tampak genah tiap keluar jalan bareng kamu. Lagian quality over quantity dong”

“Iyasih, dia gak pernah nyentuh hpnya kalau kita lagi quality time

“Makanya, tiap orang itu kan beda ndug, ada yang kurang nyaman dengan membagi fokus apalagi ada hal yang lebih penting dalam keseharian, kalau kamu perhatikan juga dari mas yang jualan pisang goreng tadi, pegawai di bandara, bank, mereka semua menjaga profesionalitas mereka untuk tidak main HP, sama halnya dengan interaksi manusia, kan gak sopan mainan hp saat ngobrol ndug, bahkan ketika sendiripun kita butuh me time tanpa komunikasi dua arah, gak usah baper lihat dia online tapi belum menggubris pesanmu”

“Iyasih kak, aku hanya iri kadang melihat Minten dan Jumono..”

“Ah nambah lagi penyakit, ngapain sih ndug ngebandingin gitu? lihat usaha nyatanya untuk menjemput kamu, bertemu orangtuamu, mendengarkan keluh kesahmu. Lagian, apa artinya bertukar kabar setiap hari kalau akhirnya kamu bukan menjadi bagian dari rencana hidupnya? berdo’a saja sibuknya adalah usahanya untuk menjalankan rencana-rencana bagi hidupnya, dan kamu menjadi bagian di dalamnya. Kamu mau nguras perasaan tiap hari, bahagia yang sementara tapi akhirnya gak jadi? ya minimal investasi perasaan dan waktumu gak akan serugi itu”

“Iyasih ya, mungkin aku khilaf, namanya juga kangen”

“jangan cupu gitu dong, zaman dulu orang-orang harus menunggu beberapa minggu hingga bulan untuk bertukar kabar, klise memang perbandingannya, tapi dari situ kamu harusnya belajar bahwa cinta juga soal sabar, ketimbang mempermasalahkan urusan intensitas belaka, cinta juga butuh jeda”

“iyadeh, mungkin baiknya ku kirim do’a agar aku bagian dari rencana hidupnya..hehe


Kamu tersenyum sendiri ketika akhirnya paham, bahwa dalam hidup kita tidak bisa selalu menghitam putihkan segala sesuatu, khususnya ketika berbicara urusan perasaan misalnya.

Kamu terkadang terlalu buru-buru mengambil kesimpulan, pesan singkatmu yang tak segera ia balas membuatmu acuh tak acuh berpikir bahwa kamu bukan lagi menjadi prioritas. Padahal dalam hidup ini, setiap orang punya prioritas masing-masing, kamu memang punya tempat yang spesial di hatinya, tapi tetap saja kamu bukan segalanya,  kenyataan yang susah kamu terima bukan? sebentar, jangan kesal dulu. 

Coba ingat-ingat, hari dimana ketika sibuk pernah membuatmu lupa segala hal kecuali kepentinganmu, kamu tidak berselera untuk sekedar membalas pesan singkat, bahkan pesan dari orang-orang terdekat. Jadi mungkin kamu bisa membayangkan, lelaki yang kadang alpa untuk segera membalas pesanmu atau bahkan bertukar kabar itu sejatinya hanya sedang mengusahakan banyak rencana dalam hidupnya.

Bukankah laki-laki dan perempuan dengan kodratnya yang berbeda punya cara tersendiri dalam bicara cinta? mungkin bagimu harus begini, harus begitu, kamu alpa ia punya peranan yang berbeda sedari awal, ia bertugas menjemputmu. Jadi sebelum kamu meletakkan ragu di atas kepercayaan, percayalah bahwa ia hanya sedang merapikan rencana untuk lebih siap dalam menjemputmu.

Iklan

Tulus dan Tentang Mencintai

Belakangan ini saya sedang senang mendengarkan lagu-lagu Tulus, setelah kualitas musiknya berhasil menggoda, tapi ada sesuatu yang lebih dalam tentang Tulus dan musiknya.

Tulus melalui musiknya berhasil membungkus perihal cinta dalam cara yang elegan dan menyenangkan. Lewat lagunya, ia seolah berusaha menyampaikan bahwa cinta bukan sekedar euforia bahagia, cinta dalam sudut pandang yang lebih dewasa adalah keinginan untuk mengerti akan banyak hal.

Mengerti bahwa…

Jeda bahkan perlu hadir diantara dua orang yang jatuh cinta. 

Seringkali ketika kita jatuh cinta, kita hanya menginginkan waktu bersama, hingga alpa bahwa jenuh tetap akan datang dan menyelinap. Kita perlu untuk tetap menikmati sepi, melewatkan beberapa momen tanpa satu sama lain, menikmati aktifitas masing-masing, sekedar jeda untuk kembali saling rindu. Bukankah seringkali kita akhirnya paham tentang rindu ketika jarak membuat kita tak mampu merangkul. Tulus merangkum hal tersebut dalam lagunya yang berjudul Ruang Sendiri, dalam liriknya ia berkata bahwa rindu sesungguhnya baik, dalam jeda dan rindu itu pula kita akan belajar untuk menyadari baik-buruk perubahan pasangan kita, dan seberapa kuat rasa yang ada di dada.

Cinta…untuk tumbuh lebih indah 

Cinta kadang bisa begitu buta, mungkin karena manusia dengan kemuliaanya dalam penerimaan yang apa adanya, tapi sesungguhnya cinta dalam wujud yang lebih kuat mampu mendorong manusia untuk menjadi lebih baik. Tulus sepertinya menyadari hal itu dan menggambarkanya dalam lagunya yang berjudul Jangan Cintai Aku Apa Adanya.  Bahwa Tulus  percaya cinta seharusnya membuat kita ingin menjadi lebih baik, mendorong kita untuk ke depan, tumbuh lebih indah. Sehingga Jangan Cintai Aku Apa Adanya menggambarkan bagaimana dua orang yang saling cinta dalam penerimaannya kepada satu sama lain haruslah tetap mengingatkan untuk saling berkembang agar sama-sama terus berjalan.

Tulus dalam beberapa lagunya yang lain pun banyak menggambarkan cinta dalam wujud yang dewasa, tapi bagi saya, kedua lagu tadi memberikan makna yang begitu kuat yang rasanya seringkali terlupakan oleh orang-orang yang jatuh cinta. Pada akhirnya cinta bukanlah sekedar rasa yang membuncah di dada, tapi keinginan untuk menjaga, dan karenanya kita butuh usaha untuk dan mau mengerti.


P.S. Terimakasih untuk yang sudah mengenalkan lagu-lagu tulus. 

2018-10-09-12-32-27.jpg

Seni Menyederhanakan Hidup

Aku pernah mengira bahwa letak kebahagiaan ada pada kemampuanku memenuhi koleksi barang-barang yang ku inginkan, aku alpa bahwa tidak ada ujung dari  keinginan memiliki  seorang manusia.

Hari demi hari keinginanku akan bertambah, apalagi dikala aku merasa mampu memenuhi apa yang ku mau, seolah-olah aku butuh semua hal itu, sebuah perasaan bahagia yang ternyata fana belaka, ada perasaan penat yang diam-diam menyelinap, memiliki ternyata tak selalu segaris dengan kebahagiaan.

Aku tanpa sadar tenggelam dalam euforia memiliki tanpa paham arti dari memiliki itu sendiri, sekedar keinginan yang berusaha dipenuhi, nyatanya aku bingung sendiri dengan segala yang aku miliki, untuk apa? aku mengoleksi banyak tas hanya untuk mendiamkan mereka hingga berdebu, mengoleksi banyak sepatu tapi tak menjadi teman perjalanan, aku mulai kehilangan makna pada setiap yang ku koleksi, buat apa mereka?

Ku kira dengan menatapi mereka memberikan rasa bahagia bahwa aku telah mampu memiliki, nyatanya hanya jemu yang ku dapati, aku punya mereka, lantas apa? hingga akhirnya aku sadar bahwa aku telah dibuat sesak oleh koleksiku sendiri, aku lelah menata ulang mereka, menghabiskan waktu untuk merawat ketika aku bahkan jarang menggunakannya. Aku nyatanya telah dimakan oleh egoku sendiri, untuk kemudian merasa lelah dengan segala yang ku miliki sebab lebih banyak kesia-siaan ketimbang fungsi.

Terlebih setelah semua berita bencana alam yang terjadi, manusia dan segala kepemilikannya terhadap benda menjadi tak berarti.  Segala koleksi yang dapat hancur dalam sekejap, dan manusia pada akhirnya tak pernah benar-benar memiliki, ku rasa kita memang harus berusaha melawan ego untuk sekedar menyenangkan hati melalui benda-benda yang kadang tiada arti.


 

WhatsApp Image 2018-10-05 at 23.58.56 (1)

Sekitar 2 tahun yang lalu, saya beruntung menemukan sebuah bacaan menarik dari blog bang Diptra, tentang seni hidup minimalis, hingga akhirnya buku beliau yang berjudul Minimalisme: Seni untuk Menyederhanakan Hidup terbit, sebuah buku tentang minimalisme yang telah banyak merubah mindset saya.

Saya ternyata telah salah kaprah, seni hidup minimalis bukanlah menjalani hidup dengan menjadi orang pelit, semua tampaknya serba kekurangan yang dibalut seolah hidup bijaksana dan sederhana. Bukan juga tentang sekedar mendekor rumah dengan konsep minimalis agar tampak aesthetic. Bukan pula hidup dengan serta merta menolak kenikmatan dan kemewahan dunia.

Dalam konsep pemahaman sederhana saya, seni hidup minimalis adalah panduan hidup untuk memprioritaskan apa yang penting dan perlu, menjaga keseimbangan diantara keinginan dengan kebutuhan yang akan menjaga ketentraman hidup kita: tidak banyak hal yang harus dipikirkan. Khususnya jika kamu suka ruangan yang tidak ramai dipenuhi oleh benda-benda. Saya menyadari betapa leganya ketika mendapati ruangan saya terasa lebih luas dan tampak tidak ramai.

Seni hidup minimalis bahkan mengulik lebih dalam kepada hal-hal yang esensial, ia bukan sekedar tentang melepaskan diri dari mengoleksi barang-barang, tetapi memprioritaskan hal-hal penting dalam hidup, seperti waktu yang kita habiskan, bahkan aplikasi-aplikasi apa saja yang kita gunakan pada gawai kita dalam keseharian.

Seni hidup minimalis sesungguhnya adalah panduan hidup bagi manusia agar lebih meringankan pikiran dan tenaga, mengesampingkan keinginan pada hal-hal yang tidak esensial.  Seni hidup minimalis tidaklah menuntut manusia untuk bersikap kaku pada keinginan memiliki, ia hanya menjadi rambu-rambu untuk menyeimbangkan kehidupan. Kebutuhan hidup diantara para manusia pun tentunya berbeda, sehingga setiap orang akan memiliki penyesuaian yang berbeda, tapi pada dasarnya seni hidup minimalis adalah panduan untuk hidup mengutamakan hal-hal yang esensial, menyeimbangkan keinginan memiliki manusia yang seringkali tanpa batas.

Apakah kamu tertarik untuk mulai mengenal seni hidup minimalis?