Percakapan tentang Hidup

“Bang, menurut abang hidup itu apa? Kematian itu apa?”

“Hingga hari ini, abang belum diberikan jawaban secara langsung oleh Tuhan, tentang pertanyaan itu. Jawaban orang lain sih, banyak.”

“Tapi, mungkin setelah membaca tentang membran sel di buku The Hidden Connections karya Pritjof Capra, atau membaca perdebatan tentang DNA di buku Life: Origin and Nature karya Hereworth Carrington, setidaknya kita akan tahu bahwa hidup adalah..tentang mengambil secukupnya; tentang mengambil yang baik-baik; tentang memberi selebihnya; tentang menjaga keseimbangan.”

“Sedangkan kematian hanya berarti satu: tidak berfungsi lagi.”

“Lalu Bang, Perlukah kita alasan untuk hidup? Kenapa bertahan hidup?”

“Perlu, alasan itu perlu. Sekalipun itu bukan untuk kita sendiri. Dan dalam pengertian tertentu, memang alasan hidup terbaik memang bukan untuk kita sendiri.”

“Kenapa begitu, Bang? Bukankah manusia mahluk egosentris?

“Apakah artinya cap ‘egosentris’ itu, selain sebuah produk konseptual dari era kolonial?”  Apakah tidak ada pandangan alternatif yang lebih jernih dan adil tentang manusia, selain konsepsi ‘egosentris’ itu? “

“Menurut Abang pandangan ‘pas’ bagi manusia itu sebagai mahluk apa selain mahluk egosentris?”

“Mengingat manusia adalah bagian dari alam, berunsurkan alam, tumbuh dengan mengasup unsur-unsur alam, berkebudayaan di alam, dan mati kembali ke alam, hemat abang, manusia mewarisi dan seyogiyanya menganut prinsip-prinsip ini. Ia adalah makhluk ekosentris, bukan makhluk egosentris.”

“Konsekuensinya, alasan hidup manusia yang sesungguhnya bukanlah dirinya sendiri, melainkan keutuhan yang lebih besar, keseimbangan dan kasih sayang.”

“Karena itulah kita menemukan para Nabi yang bersedia menderita demi memperbaiki. Karena itulah kita menemukan ajaran tentang memberi dan berkorban.”

“Dalam Islam, alasan hidup manusia hanyalah satu: ALLAH. Itu bahasa untuk keutuhan, keseimbangan, ke-maha-an, kesakralan, yang hadir di alam. Manusia ada untuk merawat itu semua: itu yang dinamakan khalifah.“

“Tentang orangtua yang banting tulang untuk anak, tentang anak yang berbakti pada orangtua, betul Bang?“

“Itu segelintir dari sekian juta bentuk ekosentrisme, ya.

“Tapi bagaimana bagi orang yang tidak percaya dengan konsep keberadaan Tuhan, Bang? Alasan hidup apa yang akan cukup rasional baginya?“

“Ekosentrisme adalah etika global. Bila pun mereka tidak menyimpulkannya sebagai Tuhan, siapapun yang meneliti sungguh-sungguh bisa menemukan karakteristik khas alam. Integritas alam pun sudah cukup sebagai ‘tuhan’ bagi seseorang dan menjaganya cukup pula sebagai ‘agama’. Ia cukup menjadi alasan hidup. Ia cukup mendorong siapa saja mengembangkan sikap baik dalam hidup.”

“Tentang mengambil secukupnya, yang baik, memberi selebihnya, untuk keseimbangan, dan kasih sayang. Diri kita sendiri tak perlu jadi satu-satunya alasan bertahan, maka tetap bertahanlah, betul Bang?”

“Benar..”

“Dek, abang ralat, kematian adalah pengorbanan terakhir; Dengan kata lain, kematian adalah dikembalikannya unsur-unsur alam dalam tubuh mahluk ke siklus alam yang utuh, seimbang, dan sakral tadi..”

“Jadi Bang..sebelum kita kembali, kita harus hidup dengan sebaik-baiknya?”

Iya….tentu saja”

“Aku boleh share ini di blogku, Bang?”

“Boleh saja, lama juga gak disebut di blog kamu, hahaha”


 

23/7/19,

Percakapan di siang bolong dengan Ical.

Percakapan tentang Hidup Part 2

Ical, Kamu berdosa banget ~

Untuk postingan yang sebelumnya, saya berhutang permintaan maaf kepada teman-teman bloger karena belum sempat membalas do’a baik yang dilantunkan. Kedua, saya tidak tahu apakah bisa disebut ikut berdosa karena secara tidak langsung mengusili teman-teman blog bersama Ical. Percayalah, Ical adalah pelaku alias master mind, dan saya adalah korban yang tidak berdaya, semakin tidak berdaya ketika teman-teman blog japri personal secara tulus untuk memberi selamat, ugh.

Greget. Itu yang saya rasakan ketika ingin mengirimi undangan digital ke teman-teman bloger tapi tidak bisa, ingin membalas juga tidak bisa, ugh Ical kamu berdosa sekali!

Tidak hanya itu, Ical masih punya dosa lain. Bayangkan, katanya kami berteman, tapi saya justru tahu kabar penting ini belakangan, bahkan setelah Gadis dan Kunu, setelah dulu Ical pernah berbual bahwa saya akan selalu jadi sahabat pertama yang tahu banyak hal dalam hidupnya. Ah dusta!

Hari ini, Ical menikah. Iya m-e-n-i-k-a-h. Akhirnya Ical pun memilih berlabuh. Sabtu, 5 Desember 2020, Ical akan mengucapkan janji sehidup sematinya. Separuh hati saya usil mendoakan ada yang iseng membalik sendal Ical ketika hendak Ijab qobul, sebuah kepercayaan untuk menganggu calon manten, hahaha. Oh tentu saja Ical juga seorang pelaku dulu, jadi bolehkan dia juga balik dikerjai?!

Ical akhirnya menikah, dan saya sudah menantikan seorang ponakan. Ponakan yang akan saya ceritakan tentang keusilan bapaknya, dan mungkin romantisme bapaknya kepada istrinya, Sari. Tentang Ical yang kadang keras kepala tapi akan begitu lembut pada mamak, kakak dan adek perempuan dalam hidupnya. Walaupun juga banyak tidak pekanya. Ical yang gigih dengan pekerjaannya tapi juga bisa absurd takut dengan suara kuntilanak tengah malam. Semoga Sari banyak sabarnya, aamiin paling serius (hahaha).

Desember tahun ini menjadi salah satu hal baik dengan menikahnya Ical dan Sari. Sebuah kabar bahagia yang ikut membuat tentram hati saya. Hari itu, ketika saya berbagi kabar baik, ternyata Ical juga ikut-ikutan. Malah ternyata Ical sengaja menunda mengabari, katanya mana tega ia berbagi kabar bahagia dikala sahabatnya sedang nestapa. Untuk alasan itu saya tidak bisa marah walau jadi orang kesekian yang menerima kabar Ical akan menikah, sebab sampai akhir Ical selalu memikirkan sahabatnya terlebih dahulu.

Ical, Abang… selamat menikah. Saya bahagia akhirnya abang punya seseorang yang bisa dijadikan senderan, setelah selama ini abang jadi pundak untuk banyak orang termaksud saya, pundak seorang abang bagi adik perempuannya. Saya mendoakan yang terbaik untuk abang dan Sari. Semoga Allah memberkahi dan menjaga pernikahan kalian berdua.

Untuk letih yang akhirnya menemukan pundak untuk bersender, untuk gelisah yang akhirnya memiliki tempat untuk bercerita, selamat berjalan bergandengan tangan. Lelah dan letih yang dibagi, syukur dan tentram yang membersamai, semoga damai yang menemani. Selamat menikah, Ical & Sari.

Salam sayang dari sahabatmu… (yang menulis ini sambil bersender pada sebuah pundak, ehem… dan tentu saja tetap tengil sampai akhir, haha).

****

Sebuah niat…
Ical, Kamu berdosa banget~
Alhamdulillah sah 🤍

Berlabuh

“Akhirnya penantian panjang kami akan berakhir. Di sinilah kami berdiri, menengok ke belakang, melihat hidup kami yang temaram: paduan antara buram dan terang. Sebentar lagi kami akan memasuki kehidupan baru. Kehidupan di mana kami tidak sendirian lagi. Kehidupan di mana sakit dan sembuh akan kami bagi. Mudah-mudahan inilah yang terbaik. Mudah-mudahan inilah jalan untuk menjadi lebih dewasa setiap hari.”

Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.

Bismillah.

Dua Sikap Melepaskan

Postingan ini adalah sebuah anomali dari kebiasaan blog ini yang update tulisan hanya setelah dipikirkan matang-matang, entah berusaha punya makna, informatif,  nyeni, intinya diusahain berfaedah dikit, yaa walaupun berfaedahnya versi pemilik blog saja, alias buat orang mungkin receh banget hahaha.

Anomali ini selingan dari kerjaan. Sepertinya saya cukup mumet sampai serandom ini ingin menulis hal lain sedari urusan kerjaan. Ada beberapa hal menarik

[1] cara orang menghadapi dan mengolah emosi serta kenangan emang berbeda-beda. Ada yang terbuka dan ada yang tertutup. Ada yang tertutup ternyata isinya masih ambyar. Diantaranya ada kawan saya yang terbuka dengan menulis atau update quote galau, kawan saya yang satunya terlihat baik-baik saja tapi ternyata masih sering kepikiran. Saya sendiri lebih suka tertutup dan terlihat baik-baik saja. Mekanisme pertahanan diri dengan prinsip: ngapain terlihat ambyar ke orang-orang yang belum tentu peduli? ya tentu saja dulu ada fase galau yang nampak, tapi semakin tua rasanya semakin realistis.

Sampai seorang kawan berkata, aku pingin kaya kamu, kamu kuat, enggak update apapun, enggak cerita sedih gimana-gimana yang berkelanjutan, pokoknya kelihatan baik-baik aja, move on with life, happy aja bawaanya. Saya enggak pernah mengira kata-kata itu akan keluar dari sohib yang buat saya juga termaksud perempuan kuat. Walaupun terlihat galau, dia tetap mengatur hidupnya dengan baik, kerja jalan, komunitas dan organisasi jalan, jogging pagi juga jalan. Saya mengambil kesimpulan singkat: kuat atau lemah itu perkara yang gak bisa diukur kalau sudah berurusan dengan perasaan. Ada yang mungkin kelihatan ambyar tapi move on with life. It’s all about how we cope with it. So it’s really okay to be vulnerable about your feeling. You can be sad, angry, and so on.

Begitupula dengan kawan saya yang satunya, berusaha realistis tapi ternyata emang masih kepikiran, pfft. Tapi ya gak apa-apa. Saya gak bisa menjadikan standar saya tolak ukur untuk orang lain. Saya pernah berusaha untuk abai tapi di suatu malam yang melenakan pertahanan diri saya, saya nangis tanpa sadar, perasaan pada akhirnya tetaplah peraaan. Yang penting adalah keputusan dan sikap yang kita ambil walau hati sebenarnya ambyar dan porak-poranda, hahaha. Mengikhlaskan dia yang sudah bagi undangan untuk tidak berkontakan lagi misalnya, sabar ya kamu kawanku ehe. Tapi sepertinya, urusan tertutup itu perkara kenyamanan untuk bercerita. Mungkin hanya pada orang-orang tertentu. Saya pun begitu. Mungkin butuh waktu dan hanya orang tertentu yang cukup tahu. Sebab pada akhirnya, dunia berputar, dan perkara hati kita mungkin hanya perkara sepele yang tidak perlu berkelanjutan.

Hampir 30 menit berlalu, I guess that’s it.

 

Yang Selesai.

Usia manusia bertambah, menua dan menua, lalu habis dipangkas waktu. Bagaimana dengan pikiran? ia bertumbuh jika dipupuk, mengakar kuat, mekar berbunga. Untuk itu, saya berjanji kepada diri sendiri untuk terus bertumbuh. Menua, dewasa, lalu mati dengan damai. Setidaknya itu yang bisa saya lakukan untuk diri sendiri, bertumbuh dengan baik.

Saya ingin tumbuh dengan berhenti meromantisir beberapa hal yang memang harusnya dilepaskan. Berdamai dan mengikhlaskan walau mungkin hati sebenarnya ambyar. Bukankah manusia sendiri adalah keutuhan yang tidak utuh? kita tidak pernah tahu akhir dari apa-apa yang kita kira sempat kita miliki, bak pasir di genggaman yang akhirnya luruh dan menghilang dari genggaman.

Tidak ada yang perlu diromantisir dari akhir cerita. Kalau berakhir maka berakhirlah. Jika selesai maka selesailah. Bukankah hidup harusnya jadi pilihan dengan penuh kesadaran? Sama seperti akhir dari apa-apa yang pernah kita perjuangkan. Masing-masing dari kita pernah berjuang dengan cara masing-masing, walau barangkali perbedaan cara itulah yang akhirnya membawa kita ke persimpangan yang berbeda.

Hari itu, saya berjanji untuk tetap baik-baik saja. Tidak perlu ada puisi kesedihan. Jika manusia adalah sebuah pilihan, kamu sudah memilih, begitupula saya, dan saya tidak mau merasa menjadi sakadar pilihan ketika telah sepenuhnya memilih. Jika bersama adalah sebuah kesepakatan, saya ingin melakukannya dengan penuh kesadaran, tidak dengan didesak ataupun terdesak. Bukankah kita seharusnya saling memikirkan satu sama lain untuk sepakat dan memilih? mungkin akhirnya memang cara kita yang terlalu berbeda.

Selamat bertumbuh walau di jalan yang berbeda. Saya memilih berdamai dengan keadaan dan mengikhlaskan. Marah yang pernah membakar mulai teredam, tapi yang pernah retak menyisakan celah dan jarak, saya kira kita cukup dewasa untuk memahami beberapa hal tidak akan sama lagi. Beberapa hal cukup disimpan rapat-rapat dan berlalu. Terima kasih.

Mengingat Siklus Menstruasi: Yuk, Lebih Perhatian!

Pada suatu hari di bulan puasa, saya tiba-tiba gelisah memikirkan ucapan seorang kawan: gue mau ngucapin semangat puasa 1 bulan full tapi kan rasanya tidak mungkin yak. Ucapannya mulai mengkhawatirkan karena saya kok tidak haid-haid juga nih, padahal udah mau ngerasain sensasi jadi tukang nyicipin takjil duluan ketika semua yang lain puasa, eh niatnya saja sudah salah nih hahaha.

Sejak itu, saya pun memutuskan untuk download aplikasi kalender haid di playstore untuk membantu saya yang kurang telaten dalam mengingat dan mencatat siklus haid. Ternyata aplikasinya lebih ‘kompleks’ dari yang saya kira. Dari sinilah saya menyadari penting banget ternyata buat memahami siklus haid kita.

Apa pentingnya?

  • Mempersiapkan diri dengan jadwal haid.
    Jadi udah bisa siaga nyiapin pembalut kemana-mana. Ini udah beberapa kali terjadi sih, dan tidak enak sekali kalau sedang kemana-mana tiba-tiba datang tamu. Apalagi kalau kamu sering berpergian, jadwal haid ini penting banget.
  • Memahami kesehatan tubuh
    Jika kita rutin mencatat siklus haid, ini akan membantu dokter mendiagnosa jika semisal ada kejanggalan dengan tubuh kita. Sudah berapa lama tidak haid? atau apakah ada perubahan drastis dari tanggal haid. Ternyata penting banget buat dokter tahu kapan terakhir kali kita haid, dan tiap berapa hari siklusnya.
  • Membantu menentukan pola gaya hidup
    Ternyata dokter bisa membantu kita menentukan pola gaya hidup atau diet berdasarkan dari siklus haid kita
  • Potensi Kehamilan
    Beberapa waktu lalu, sahabat dekat saya mengabari kalau dia positif hamil, testpacknya menunjukkan dua garis biru. Do’i cerita, gue tuh curiga kenapa gue telat haid nih, biasanya di jadwal gue tanggal segini udah haid, akhirnya gue kepikiran aja ngecek pake testpack, habis ini mau ke dokter. Nah, ternyata dari telat haid juga bisa jadi patokan untuk segera mengecek potensi hamil.
  • Mempersiapkan kehamilan 
    Ini, saya baru tahu soal ini saat pertama install aplikasinya. Ada pilihan mencatat siklus haid biasa, mempersiapkan kehamilan atau sebaliknya, belum berencana hamil. Kalau lihat review di playstore, beberapa perempuan memberikan review senang dengan program hamil dari aplikasi siklus haid. Aplikasinya akan memberi info masa-masa subur, ovulasi. Berhubung saya belum ada pengalaman, saya skip saja, ehe.

Nah, di playstore ada beberapa aplikasi, saya sudah mencoba sekitar 3-4 aplikasi, tapi akhirnya saya putuskan memakai PinkBird. Ada banyak pilihan di playstore, teman-teman bisa download sesuai yang teman-teman suka. Saya akan sekadar share pengalaman saya dengan PinkBird untuk jadi referensi, biar ada bayangan pentingnya mencatat siklus haid, dan memanfaatkan aplikasi kalender haid.

Saat pertama menggunakan, saya diberi pertanyaan lama haid, lama siklus. Kalau teman-teman tidak tahu, nanti bisa memilih tidak tahu. Saya sendiri mengisi lama haid sekitar 10 hari, dan tidak tahu untuk lama siklus, secara otomatis akan di isi 28 hari oleh aplikasinya, nanti bisa diubah belakangan.

Saya mengisi tanggal 8 Mei sebagai awal haid, nah ternyata ada catatan untuk detail haid sebagai berikut:

  • Berdarah: bercak, sedikit, sedang, banyak
  • Suasana hati: normal, bahagia, sensitif, sedih, marah, panik, riang, lelah, murung, tegang, kesepian, resah.
  • Gejala-gejala: baik, kram, jerawat, PMS, sakit kepala, pusing, nyeri, kembung, pegal, sakit leher, nyeri bahu, sakit, nyeri punggung, mual, sembelit, diare.
  • Seks: Tidak, pakai pelindung, tidak pakai pelindung.
  • Obat: minum pil
  • Berat Badan & Suhu
  • Kegiatan fisik: tidak berolahraga, lari, bersepeda, gym, aerobik & menari, yoga, olahraga tim, berenang.
  • Lainnya: berpergian, stress, penyakit atau cedera, alkohol.

IMG_20200513_193501

Ilustrasi aplikasi

Saat membaca detail itu, saya agak ‘kaget’ dengan semua detail yang menurut saya  ..apa banget deh. Emang ada gitu yang ngerasain semua itu? emang sekompleks itu mood saat haid sampai opsinya sedetail itu? saya pun mengisi detail hari pertama cukup sederhana. Suasana hati normal, cukup lelah. Gejala baik. Tidak gimana-gimana seperti ilustrasi berikut.

IMG_20200513_193340

TAPI……semua berubah di hari ketiga, HA HA HA. Hampir saya centang semua tuh opsi di suasana hati. Mamam tuh kesombongan di hari pertama, pfft. Mood yang diombang-ambing hormon saat haid ini memang luar biasa. Saya jadi insomnia, sensitif, lelah, kesepian, sedih, murung, resah. Random banget. Tiba-tiba merasa kangen, padahal gak tahu ngangenin siapa. Tiba-tiba ingin menangis sedih padahal gak mikirin apa-apa. Ugh, males banget. 

IMG_20200513_193355

pfffftttt

Detail yang ada barangkali akan membantu aplikasi membuat prediksi siklus haid yang lebih akurat serta suasana hati dan gejala di masa mendatang. Saya belum tahu persis berhubung baru pertama menggunakan. Nah seperti ilustrasi di bawah, ada keterangan prediksi jadwal haid berikutnya, masa subur, ovulasi. Serta kemungkinan gejala yang akan saya alami beberapa hari ke depan selama haid.

 

Selain itu, ternyata aplikasi PinkBird ini otomatis terhubung ke google calender saya. Dia juga aktif memberikan notifikasi seperti perbanyak olahraga, minum air, masa subur seperti ilustrasi berikut:

 

Setelah menggunakan aplikasi ini beberapa hari, saya sarankan teman-teman perempuan untuk menggunakan aplikasi kalender haid, terserah mau yang mana di playstore. Penting banget buat paham soal seluk-beluk siklus haid begini. Buat teman laki-laki yang punya sodara perempuan, suami kepada istrinya atau bapak-bapak yang punya anak perempuan bisa disarankan untuk menggunakan aplikasi ini.

Dari sini kita bisa belajar bahwa haid itu ternyata kadang mempengaruhi suasana hati seorang perempuan. Tapi saya gak membenarkan teman-teman untuk marah-marah juga ya dengan alasan haid. Memahami bahwa ada macam gejala. Jadi enggak heran kalau lagi haid ternyata emang lebih gampang capek, jadi baiknya jangan berkegiatan yang berat-berat dulu. Gejala tiap orang juga berbeda-beda. Saya pernah sakit kepala gak karuan yang rasanya pingin pingsan saja. Pernah juga bawaannya mules. Ada yang bawaannya jadi senang makan atau ngemil, ada yang sebaliknya. Bisa tidur seharian atau bahkan gak tidur seharian. Cukup kompleks.

Hal lain yang ingin sekalian saya ingatkan sekilas di sini adalah warna darah dapat mengindikasikan kesehatan kita.  Tapi saya tidak ingin setengah-setengah mengulas, jadi saya berikan referensi link bacaan saja dulu ya. Bisa baca di sini:1, 2, 3.

Jangan lupa juga untuk sering-sering mengganti pembalut tiap beberapa jam sekali, apalagi kalau sedang banyak-banyaknya. Kesalahan kecil yang sering disepelekan tapi bisa berefek buruk adalah tidak mengganti pembalut walau sudah berjam-jam karena sepertinya tidak akan bocor. Ini salah banget. Mengganti pembalut sesering mungkin itu untuk menghindari iritasi, dan ini bisa perih banget loh ya rasanya iritasi. Hindari juga menggunakan celana pendek khusus haid terlalu sering. Celana yang terlalu ketat ini juga dapat menyebabkan iritasi. Ibaratnya ya kayak pakai kaos dan keringatan. Kulit juga enggak akan nyaman dan butuh bernafas. Jadi pastikan sering mengganti dan menggunakan celana yang cukup nyaman. Yuk, edukasi teman-teman perempuan di luar sana. Memahami diri sendiri dan siklus haid!

Referensi: 1,2,3.

Ta’aruf.

Ehem. Judulnya berpotensi menuai kehebohan kawan-kawan akrab dan netizen.

Sayangnya ini bukan yang kalian harapkan, hahahahah. 

Belakangan ini, jagad twitter lagi ramai oleh seorang laki-laki yang gemar modus ta’arufan tapi setelah dinikahi dengan mudahnya diceraikan. Kalau bahasa tanpa saringan mah intinya setelah ditiduri ya ditinggalkan. Ini sudah level penipuan serius, rapi, dan terencana. Hanya saja kamuflasenya pakai agama. Ini yang membuat saya jengkel. Akhirnya, tercetus di pikiran saya untuk menulis tentang konsep taaruf, prosesnya, dan etikanya.

Apa itu Ta’aruf?

Secara singkat, ta’aruf adalah proses mengenal calon pasangan sebelum menikah.

Apakah ta’aruf itu bersifat wajib? Kalau yang saya pahami sih enggak, tapi salah satu cara menjaga keberkahan proses menuju pernikahan yang sesuai syari’at. Ta’aruf hadir untuk menjaga dua orang dari fitnah. Untuk orang-orang yang serius dan sudah mampu untuk menyegerakan menikah.

Nih ya, garis besarnya serius, segera dan terjaga.

Sehingga ada etika, tata cara, aturan dalam proses ta’aruf! Bukan dung dung tak ces jadi gitu aja besok nikah, hiiih.

Jadi, apa saja yang perlu diperhatikan dalam proses ta’aruf?

Kamu memang sudah dalam posisi serius, siap lahir-batin, dan ingin segera.
Bukan ta’arufan sekarang, nikahnya lima tahun lagi dengan tetap intens bertukar kabar. Ta’aruf itu bukan sebuah ikatan atau komitmen antara dua orang yang menginginkan satu sama lain tapi belum siap menikah. Bukan janjian mau nikah entar terus sekarang ta’arufan saja dulu, sebuah alibi untuk menolak label pacaran, HTS, TTM, FWB, Selingkuhan, dll, padahal kadang cuman beda kemasan dikit, iyanih kita ta’arufan. Wahai anda, tahukah ta’arufan itu harusnya bersifat rahasia.

Adanya perwalian dalam proses ta’aruf sebagai perantara.
Proses ta’aruf itu melibatkan perantara yang bisa dipercaya dan yang mengenal baik si calon. Buat apa? Biar menjaga. Menjaga dari berduaan lalu ditambah was-was setan. Menjaga biar hatimu enggak baper duluan. Ehe bercanda ding. Ya intinya mah buat menjaga marwah kedua belah pihak.

Sangat membatasi kontak personal.
Esensi ta’aruf itu kan mengenal baik calon tanpa harus melanggar syari’at. Jadi ya tentu saja kontak personal dibatasi. Biar tidak ada modus bangunin sahur pakai telepon-telepon gitchu, lalu pelan-pelan ngerasa nyaman eh ditinggal pas udah mulai terbiasa, hahaha. Nah, hadirnya perwalian adalah untuk menjembatani hal-hal yang ingin ditanyakan tapi tidak secara langsung.

Proposal Ta’aruf
Proposal ini berisi biodata kita. Ini tujuannya untuk mengetahui latar belakang calon. Sama aja kayak waktu pdkt, bedanya ini dalam bentuk proposal. Untuk mengetahui pandangan hidupnya, visi misi pernikahan. Konsep hemat ngobrol soal kecocokan dan tujuan pernikahan satu sama lain.

Bersifat Rahasia
Proses ta’aruf ini bersifat sangat rahasia untuk menjaga marwah kedua belah pihak. Bahkan foto kita saja tidak bisa sembarangan diberikan. Hanya ketika kedua calon benar-benar yakin dengan level kecocokan berdasarkan prinsip pernikahan di proposal dan hal lainnya, barulah boleh dipertemukan untuk memastikan kembali.

Pokoknyaaa..sekali lagi, kurang lebih ta’aruf ini adalah sebuah usaha untuk menjaga dua orang yang meniatkan menikah sebagai ibadah yang berkah, sehingga sedari proses menuju pernikahan itu dimaksimalkan usaha untuk menjaga keberkahannya. Mengenali baik-baik calon pasangan hidup kita dengan hati-hati sesuai syariat. Sangat hati-hati.

Makanya, ta’arufan itu tidak sembarangan. Ada orang asing ngajak ta’arufan langsung kuy. Apalagi diajaknya via chat.  Kenali baik-baik dia lewat proposalnya, pastikan juga kebenarannya lewat kenalannya. Keluarganya, latar belakangannya, nasabnya. Cari tahu benar-benar! Libatkan keluarga untuk mencari informasi, supaya kita enggak baper duluan dan sendirian lalu terlena janji-janji manis, ehe.

Arif Rahman Lubis dalam bukunya juga bilang, jangan karena kita gak mau pacaran, ada laki-laki yang datang langsung kita persilahkan ngelamar ke ayah sebagai pembuktian. Gak gitu dong cara mainnya. Lewati proses ta’aruf dulu. Lagian untuk melewati proses ta’aruf ini juga enggak cus sama semua orang. Sekiranya yang memang berpotensi. Jadi bukan ajang buat kenalan saja dulu, sapa tahu cocok, hadeh. 

Apakah Ta’aruf menjamin sebuah pernikahan?

Ya tidak. Ta’aruf kan sebuah bentuk ikhtiar menuju pernikahan yang berkah. Diantara hal-hal yang baik akan ada oknum-oknum yang rada nyeleweng seperti kasus di atas. Makanya penting buat kita memahami esensi dan etika dalam ta’aruf. Saya kenal kerabat yang pernikahannya baik-baik saja setelah sebelumnya melalui proses ta’aruf, ketika ada yang sangsi apakah konsep ta’aruf ini cukup untuk memastikan calon pasangan hidup. Hubungan antar manusia itu dinamis sehingga tiap orang barangkali menemukan cinta dan pasangan lewat cara yang berbeda-beda. Saya cuman gak mau nyinyir. Mungkin enggak semua orang familiar dengan konsep ta’aruf ini, tapi melihat esensinya tentu saya akan bilang ta’aruf itu konsep yang baik selama yang menjalani mengikuti aturan-aturan di atas.

Lalu, apakah saya akan melalui konsep ta’aruf ini? enggak tahu. Apakah akan pacaran? sedang tidak minat, eh gimana ini maunya apa. Terus gimana? ya enggak tahu, saya mah lagi menikmati kejombloan ini, hahaha. Buat saya pribadi, pribadi loh ya ini, diantara banyak proses seperti proses ta’aruf, proses yang mengikuti adat-istiadat atau budaya baik di keluarga atau masyarakat, proses itu mesti baik bagi kedua belah pihak dengan melibatkan keluarga. Pernikahan akan jadi nafas panjang yang harus dipersiapkan dengan sangat matang, dan di Bumi yang luas ini, keluarga adalah orang yang paling peduli. Eh, lagian kenapa jadi melipir ke preferensi personal gini yak, hadeh!


Disclaimer: Konsep ini saya tulis berdasarkan referensi bacaan di buku Arif Rahman Lubis, seminar pernikaahan, dan beberapa kajian yang pernah saya hadiri. Kalau ada koreksi boleh banget di kolom komentar, dipersilahkan ya.. 🙂


Intermezo: Ternyata kolom komentar lupa saya aktifkan 😂 Thanks to Latifa for letting me know 😙

IMG_20200513_151544